Wednesday, September 26, 2012

Tugas 4-Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


 STOP KEKERASAN!           


               Kemanusiaan, berasal dari kata manusia. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dari makhluk-makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Manusia dibekali akal dan pikiran untuk melakukan segala kegitan. Oleh karena itu manusia menjadi makhluk yang paling sempurna dar semua makhluk ciptaan Tuhan. Kata kemanusiaan sering disandingkan dengan kata adil, adil memiliki arti bahwa suatu keputusan dan tindakan yang dilakukan selalu didasari oleh niat yang baik dan tidak sewenang-wenang. Selain adil, kemanusiaan juga sering dihubungkan dengan kata adab. Kata adab memiliki arti budaya, orang yang beradab adalah orang yang memiliki sikah hidup dalam mengambil keputusan dan melakukan sebuah tindakan selalu dilandasi oleh nilai-nilai budaya, terutana nilai sosioal maupun moral yang ada di masyarakat.

                Kemanusiaan yang adil dan beradab sudah tidak asing lagi di telinga kita, khususnya bagi bangsa Indonesia yang kerap kali melafalkan kalimat tersebut. Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan sila ke-2 dari dasar Negara Indonesia, yaitu Pancasila. sIla ke-2 ini didasari oleh sila pertama, ketuhanan yang Maha Esa. Kemanusiaan dimiliki oleh semua manusia di dunia, tanpa memandang ras, keturunan dan warna kulit. Tetapi seiring berjalannya waktu nilai-nilai kemanusiaan  mulai pudar dan tidak dimiliki oleh semua orang.

                Kejahatan terhadap umat manusia merupakan salah satu bentuk pelanggaran dari nilai kemanusiaan yang ada. Kejahatan terhadap kemanusiaan ini adalah salah satu pelanggaran HAM berat yang ada. Salah satu kejahat yang paling sering dilakukan adalah bullying.

                Bullying adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri. Perilaku seperti ini akan menyebabkan seseorang menjadi takut, terancam sampai tertekan sehingga dapat menyebabkan depresi.

                Tindakan kekerasan yang dilakukan senior terhadap junior di sekolah bukanlah hal yang baru. Hal tersebut merupakan contoh dari bullying. Kasus ini telah lama terjadi di dunia,  khususnya di Indonesia. Bullying di Indonesia bisa dikatakan luput dari perhatian, di sejumlah negara maju Pusat Krisis untuk masalah semacam ini telah didirikan, anak-anak yang terlibat akan ditangani khusus di tempat tersebut.

                Bentuk bullying ada 3 yaitu;

·        -  Fisik        ; Kegiatan seperti memukul, menampar, memalak atau meminta paksa yang bukkan miliknya    hingga pengeroyokan massal menjadi contoh dari kekerasan fisik.
·      -  Verbal      ; Memaki, menggeretak, mengejek, dan bergossip  adalah bentuk dari kekerasan verbal.
·      -   Psikologis ; Mengintimidasi, mengecilkan, mengadabikan dan mendiskriminasikan merupakan contoh dari kekerasan fisik.

Memukuli adik kelas hingga babak belur dan masuk rumah sakit hanya karena melewati area  kakak kelas? Yang benar saja. Hal tersebut merupakan contoh bullying yang sering terjadi dan dilakukan oleh kakak kelas di lingkungan sekolah. Apa hak mereka? Dalam kasus ini tidak ada pihak yang diuntungkan. Justru sebaliknya, kerugianlah yang akan didapat. Pihak yang menjadi korban akan meminta pertanggung jawaban kepada pelaku. Dan tidak menutup kemungkinan si pelaku akan pindah sekolah karena rasa malu yang tidak dapat ditutupi. Jadi tidak ada pihak yang menang dalam kasus seperti ini.

                Menurut catatan Komnas Perlindungan Anak yang mendata kasus bullying setiap tahunnya, pada tahun 2011 kurang lebih ada 139 kasus bullying yang terjadi di area sekolah dan angka tersebut tercatat sebagai rekor yang sukup tinggi. Tak sedikit dari kasus itu yang melibatkan aparat kepolisian. Kebanyakan kasus yang terjadi karena adanya ajakan yang dilakukan oleh senior agar junior tunduk dan patuh terhadap perintahnya. Disinilah mereka menggunakan kekuasaan mayoritas terhadap minoritas. Kasus seperti sebenarnya dapat diselesaikan lewat perdamaian. Namun apabila kata damai sulit didapatkan, maka polisi perlu dilibatkan agar oknum terkait dapat membantu dan mengatur jalannya proses mediasi atau perdamaian di luar pengadilan.

Bullying tidak hanya terjadi di Indonesia

                Bullying berdampak menurunkan kecerdasan dan kemampuan analisis siswa yang menjadi korban. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hal ini akan menyebabkan meningkatnya tingkat depresi dan penurunan nilai-nilai akademik dan tidak jarang berhujung pada tindakan bunuh diri. 

                Selain tindak kekerasan di sekolah yang kita kenal dengan bullying, tindak kekerasan juga terjadi di dalam rumah tangga. Tindakan tersebut lebih dikenal dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kekerasan ini dilakukan di dalam rumah baik oleh suami ataupun istri. Tidak jauh berbeda dengan kekerasan yang terjadi di sekolah, kasus ini juga menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan. Sebagian besar korban KDRT adalah perempuan, dan pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya sendiri.

                Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terjadi antara istri dan suami, kasus ini juga melibatkan anak, pengasuh dan juga pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah tersebut. Bentuk KDRT kurang lebih menyerupai bentuk bullying, yaitu seperti;

·         - Kekerasan Fisik : Tindakan menendang, memukul, dan tindakan lain yang dapat mengakibatkan cedera, pingsan, kehilangan panca indera hingga mengakibatkan kematian.
·         - Kekerasan Psikis : Penghinaan, pemaksaan, pelarangan, pengendalian dan eksploitasi dapat membuat korban menjadi tertekan dan tersiksa secara batin.
·         - Kekerasan Seksual : Pelecehan seksual hingga pemaksaan hubungan seks.
·         Kekerasan Ekonomi : Memaksa korban bekerja keras dan kemudian menelantarkannya begitu saja.

                Kasus KDRT yang sering terjadi kerap kali menimpa para tenaga kerja indonesia (TKI) di luar negeri. Berita kekerasan pada TKI di luar negeri terus saja mengalir. Tak sedikit dari mereka disiksa dan kembali ke tanah air dengan keadaan sudah tidak bernyawa, melainkan kembali dengan peti mati. Kasus ini tidak hanya terjasi sekali atau dua kali, namun sudah berkali-kali. Mereka diperlakukan layaknya pekerja rodi di zaman dahulu yang bekerja tidak tahu waktu. Apabila melakukan sedikit kesalahan akan dihukum dengan cambukkan bahkan hingga menyiramkan air panas ke tubuh korban.Hal ini terjadi karena lemahnya sistem pengawasan dan perlindungan dari pemerintah terhadap para TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tenaga kerja Indonesia yang berhasil melarikan diri dari kekerasan majikannya lebih memilih untuk langsung kembali ke Indonesia.  

TKI yang menjadi korban KDRT

                Anak juga tidak luput dari kekerasan dalam rumah tangga. Lagi-lagi berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Januari hingga Agustus 2012 sudah tercaatat 3.332 kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia.

                Ironisnya dari data yang ada tercatat bahwa keluarga merupakan tempat terbanyak terjadinya kekerasan terhadap anak. Ada kurang lebih sekitar 496 kasus di dalam lingkungan keluarga, yang kemudian disusul dengan 470 kasus yang terjadi di wilayah sekolah dan urutan ketiga adalah kekerasan terhadap anak dibidang agama yaitu 195 kasus.

                Bentuk kasus kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga yang sering terjadi antara lain berkaitan dengan perebutan hak asuh anak, akses bertemu anak, anak kabur dari rumah, penelantaran anak hingga pengasuhan anak bermasalah. Sedangkan kekerasan terhadap anak di dalam dunia pendidikan berupa bullying, seperti yang sudah dipaparkan diatas. Selain itu tawuran, diskriminasi pendidikan dan anak korban pungli.

                Kondisi ini sudah sangat mengkawatirkan khususnya kasus yang terjadi di dalam lingkungan keluarga, sebagian besar kasus terjadi di perkotaan. Penyebab utama kasus kekerasan pada anak seringkali berhubungan dengan masalah himpitan ekonomi yang membuat orang tua korban menjadi stres. Selain itu tidak menutup kemungkinan si pelaku juga mengalami hal yang sama ada masa kecilnya, lalu sistem tersebut diteruskan kepada anak-anaknya.

Kekerasan Pada Anak

                Dari rincian data jumlah kasus kekerasan tersebut, sebagian besar dalam bentuk kekerasan fisik dan sisanya adalah kekerasan seksual. Banyak kasus kekerasan terhadap anak yang tidak diproses lebih lanjut karena sang anak sebagai korban tidak tahu harus kemana untuk melakukan pengaduan, dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa yang sedang mereka alamai merupakan sebuah tindak kekerasan.


“Apa yang akan terjadi pada anak yang mengalami kekerasan di dalam rumah tangga masih harus menghadapi kekerasan yang ada di lingkungan luar?”


                Sedih rasanya saat mengetahui nilai kemanusian sudah mulai pudar. Sudah tidak ada lagi keadilan, norma-norma yang ada juga sudah tidak berlaku. Kebanyakan orang bertingkah seperti layaknya orang-orang tak beradab. 

                Melihat tenaga kerja Indonesia, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan pahlawan bangsa diperlakukan semena-mena. Hendaknya negara memberikan perlindungan dan rasa aman untuk mereka para pekerja keras, yang tidak hanya bekerja untuk keluarganya tetapi juga bekerja untuk negara. Mereka membutuhkan yang dapat dipercaya yang bisa mendengarkan mereka dengan baik dan membantu mereka keluar dari kekerasan tersebut.

                Untuk kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada anak-anak sudah sepatutnya, sebagai orang tua mereka sadar bahwa anak adalah titipan dari Tuhan yang harus dijaga sebaik-baiknya. Ia membutuhkan bekal dan dukungan positif dari keluarganya agar kelak si anak dapat hidup bahagia, bukannya tersiksa. Saya tidak dapat membayangkan apa rasanya anak-anak yang mengalami kekerasan di dalam rumah. Sudah sepatutnya anak-anak itu diberikan perlindungan khusus.

                Melihat banyakanya tindakan bullying yang terjadi dimana-mana, saya sangat bersyukur di sekolah tempat saya menimba ilmu saat ini tidak terjadi hal seperti itu. Untuk apa melakukan hal konyol yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Lebih baik waktu dan tenaga untuk melakukan tindakan kekerasan tersebut digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Kita bisa menggunakan tenaga tersebut untuk belajar dan melakukan kegiatan seru lainnya. Berkenalan dan berteman dengan adik kelas juga tidak ada salahnya, mungkin saja dari hubungan yang terjalin kita mendapatkan kemudahan dan keuntungan tersendiri.


Sumber:

No comments:

Post a Comment